WATAMPONE, PAKARMEDIACOM–Wanita ini tak menyangka malam pergantian tahun 2024 ke 2025 menjadi malam terakhir kebersamaan dirinya dengan sang suami, Rudi S Gani, pengacara yang tewas ditembak di depan rumah istrinya di Dusun Limpoe, Desa Pattuku Limpoe, Kecamatan Lappariaja, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, Selasa, 31 Desember 2024 sekira pukul 21.50 Wita.
Pada malam kejadian, korban bersama istri dan keluarganya sedang bersantap malam di depan rumah menanti detik-detik pergantian tahun tiba. Suara musik dari speaker pun mengalun mengiringi indahnya kebersamaan keluarga malam itu. “Di situ ada kemenakan, sepupu, ada tante. Habis Isya bakar-bakar ikan, setelah itu jam 9 lewat kita makan. Sambil makan-makan itu, sudah hening karena duduk semua melantai. Kita duduk memanjang. Suami menghadap ke jalan,” cerita Maryam dalam wawancara dengan Herald Sulsel yang ditayangkan di kanal YouTube.
Namun di tengah keasyikan bersantap bareng tersebut, tiba-tiba terdengar suara ledakan yang cukup mengagetkan. Meski ada hiruk pikuk suara musik dari speaker tapi suara ledakan tersebut tetap terdengar. Mengagetkan!. Belum sempat mengecek sumber suara ledakan, pada saat yang sama seseorang yang sedang ikut bersantap jatuh tergeletak di lantai. Dia adalah Rudi S Gani, sang pengacara.
“Sekitar pukul 9.40 sekian, langsung tiba tiba ada ledakan. Ada musik na masih besar ini (Suara ledakan). Masih bikin kaget. Bersamaan ledakan langsung suami saya tergeletak ke belakang. Ada darah keluar langsung saya lompat angkat karena saya pikir nanti tidak bisa bernafas karena mata sudah tidak kelihatan. Saya lompat, saya pangku kepalanya. Jadi pikiranku itu, tidak ada ledakan selain petasan karena malam tahun baru. Jadi saya pikir itu bapak kaget, jatuh terbentur kepalanya, sehingga keluar daerah. Saya kira pecah pembuluh darah,” urai Maryam seraya mengungkapkan, bahwa jarak dirinya dengan sang suami saat kejadian cukup dekat. Hanya diantarai satu orang.
“Posisi dengan suami tidak sampai satu meter ya, karena ada satu orang diantara kami. Ada tukang saya, kebetulan kantor kak Rudi direnov. Rumah di samping kantor. Lokasi kejadian di depan kantor,” tambahnya.
Kembali ke cerita kondisi Rudi S Gani setelah jatuh tersungkur. “Keluar darah dari mulut. Tapi basah semua kepalanya. Jadi saya periksa kepalanya tidak luka. Saya lihat bajunya, dadanya tidak ada luka. Setelah saya lap mukanya baru saya lihat ada memar. Selebar pulpen. Saya pikir ayah mungkin tertusuk sendok karena saat jatuh masih pegang piring. Nasi di tangan karena mau suap,” cerita Maryam seraya terisak. Ia tak kuasa menahan tangis saat menceritakan detik-detik kritis tersebut.
“Setelah saya lap mukanya, bapak melihat saya. Mata berkedip dua kali lalu tutup mata. Langsung saya angkat naik ke mobil lalu menuju ke Puskesmas Lappa Riaja,” sambung Maryam. Sesampai di Puskesmas Rudi S Gani pun sudah tiada.
Maryam mengakui sumber suara ledakan terbilang dekat. Diperkirakan kurang dari 10 meter. Meski begitu ia tak melihat ada siapa-siapa. “Jarak ledakan tidak sampai 10 meter. Dalam kantor itu empat meter, teras dua meter, terus dari teras ke jalan itu sekitar tiga meter. Ada dua mobil yang parkir. Mobil saya di depan kantor. Mobil kemenakan saya di depan rumah. Yang saya dengar ledakan di balik mobil saya. Karena mobil terparkir di depan kantor,” bebernya.
Ditanya mengenai pesan yang disampaikan almarhum sebelum meninggal, Maryam menyatakan tidak ada. Termasuk kemungkinannya peristiwa ini ada kaitannya dengan kasus-kasus yang ditangani almarhum. “Saya selalu mendampingi beliau kemana pun pergi sidang. Saya selalu mendampingi. Kalau (Kasus) yang di Bone di pengadilan agama ada dua, pidana 3, perdata satu,” pungkasnya. (*).
















